Imajinasi menjadi Inspirasi dan Motivasi

WANITA MASA IDDAH, BOLEH DI NIKAHI ?

Dalam bahasan kali ini akan kita bahas tentang masalah fiqih wanita, khusus terkiat dengan pernikahan seorang yang wanita yang dalam keadaan masa iddah, kenapa kita angkat masalah ini karena banyak diantara kaum muslimin belum memahami akan fiqih iddah.
Tidak semua wanita boleh dinikahi oleh seorang laki-laki. Wanita yang tidak boleh dinikahi itu di antaranya wanita yang masih dalam masa ‘iddah.
Sedangkan pengertian ‘iddah menurut Sayyid Sabiq adalah:

الْعِدَّةُ: مَأْخُوْذٌ مِنَ الْعَدَدِ وَ اْلإِحْصَاءِ؛ أَيْ مَا تُحْصِيْهِ الْمَرْأَةُ وَ تَعُدُّهُ مِنَ اْلأَيَّامِ وَ اْلأَقْرَاءِ وَ هِيَ اسْمٌ لِلْمُدَّةِ الَّتِى تَنْتَظِرُ فِيْهَا الْمَرْأَةُ وَ تُمْتَنَعُ عَنِ التَّزْوِيْجِ بَعْدَ وَفَاةِ زَوْجِهَا أَوْ فِرَاقِهِ لَهَا [1]

‘Iddah itu diambil dari kata ‘adad (bilangan) atau ihsha’ (perhitungan), yakni hari-hari yang seorang perempuan itu menghitung dan membilang-bilangnya, dan dia adalah satu sebutan untuk satu masa yang seorang perempuan harus menunggu padanya, dan dia dilarang untuk menikah setelah kematian suaminya atau perceraiannya (suami) dengannya.

Jadi, seorang perempuan yang masih dalam masa ‘iddah dilarang untuk menikah sampai habis masa ‘iddahnya. Dasar larangan tersebut adalah firman Allah ta'ala;

وَلاَ تَعْزِمُوْا عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّى يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ...الأية البقرة (2):235

…Dan janganlah kalian bersengaja melaksanakan akad nikah sehingga ketetapan itu sampai pada batasnya…
QS. Al-Baqarah (2):235

Berdasarkan ayat tersebut, ulama sepakat bahwa pernikahan yang dilaksanakan pada masa ‘iddah dianggap tidak sah.[2]
Adapun hadits yang menunjukkan tidak bolehnya melaksanakan akad nikah pada masa ‘iddah sampai habis masa ‘iddah tersebut, di antaranya:

أَنَّ سُبَيْعَةَ بِنْتَ الْحَارِثِ أَخْبَرَتْهُ أَنَّهَا كَانَتْ تَحْتَ سَعْدِ بْنِ خَوْلَةَ وَهُوَ مِنْ بَنِي عَامِرِ بْنِ لُؤَيٍّ وَكَانَ مِمَّنْ شَهِدَ بَدْرًا فَتُوُفِّيَ عَنْهَا فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ وَهِيَ حَامِلٌ فَلَمْ تَنْشَبْ أَنْ وَضَعَتْ حَمْلَهَا بَعْدَ وَفَاتِهِ فَلَمَّا تَعَلَّتْ مِنْ نِفَاسِهَا تَجَمَّلَتْ لِلْخُطَّابِ فَدَخَلَ عَلَيْهَا أَبُو السَّنَابِلِ بْنُ بَعْكَكٍ رَجُلٌ مِنْ بَنِي عَبْدِالدَّارِ فَقَالَ لَهَا مَا لِي أَرَاكِ تَجَمَّلْتِ لِلْخُطَّابِ تُرَجِّينَ النِّكَاحَ فَإِنَّكِ وَاللهِ مَا أَنْتِ بِنَاكِحٍ حَتَّى تَمُرَّ عَلَيْكِ أَرْبَعَةُ أَشْهُرٍ وَعَشْرٌ قَالَتْ سُبَيْعَةُ فَلَمَّا قَالَ لِي ذَلِكَ جَمَعْتُ عَلَيَّ ثِيَابِي حِينَ أَمْسَيْتُ وَأَتَيْتُ رَسُولَ اللهِ r فَسَأَلْتُهُ عَنْ ذَلِكَ فَأَفْتَانِي بِأَنِّي قَدْ حَلَلْتُ حِينَ وَضَعْتُ حَمْلِي وَأَمَرَنِي بِالتَّزَوُّجِ إِنْ بَدَا لِى [3]
أَخْرَجَهُ الْبُخَارِى وَ اللَّفْظُُ له وَ مُسْلِمٌ وَ أَبُوْ دَاوُدَ وَ التِّرْمِذِى وَ النَّسَائِى وَ ابْنُ مَاجَه

Bahwa Subai’ah binti Al-Harits mengabarinya (Umar bin Abdillah bin Al-Arqam) bahwa dia dulu menjadi istri Sa’id bin Khaulah -sedang dia (Said bin Khaulah) seorang dari Bani ‘Amir bin Lu’ay dan dia termasuk orang yang menyaksikan/mengikuti perang Badar-. Dia meninggal dunia pada waktu Hajji Wada’ sedangkan ia (Subai’ah) dalam keadaan hamil. Tidak berselang lama setelah kematian (suami)nya, dia melahirkan kandungannya. Maka tatkala telah suci dari nifasnya, dia berdandan untuk para pelamar. Abus Sanabil -seorang laki-laki dari Bani ‘Abdid Dar- datang kepadanya, kemudian dia bertanya: Kenapakah aku melihatmu berdandan, adakah kamu ingin menikah? Demi Allah, sesungguhnya kamu tidak boleh menikah sampai kamu melewati empat bulan sepuluh hari. Subai’ah berkata: Maka tatkala dia mengatakan hal itu kepadaku, akupun memakai pakaianku tatkala sore hari, kemudian aku mendatangi Rasulullah saw., kemudian aku tanyakan hal itu kepada beliau. Beliaupun memberiku fatwa bahwa aku telah halal semenjak aku melahirkan kandunganku, dan beliau memerintahku untuk menikah jika aku berkehendak.

Telah mengeluarkannya Al-Bukhari -sedang lafal ini miliknya-, Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ibnu Majah. [4]
Dalam hadits tersebut Rasulullah shollahu alahi wassalam. memperbolehkan Subai’ah untuk menikah karena masa ‘iddahnya telah habis, yakni semenjak dia melahirkan kandungannya.

Dari paparan singkat dapat kita ambil kesimpulan bahwa menikahi wanita dalam masa iddah adalah haram.

Sleman, September 2016
Abu Umair,BA.



[1] Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, jl.2, hlm.277.
[2] Ibnu Katsir, Tafsirul Qur’anil Adhim, jz.1, hlm.282.
[3] Al-Bukhari, Shahihul Bukhari, jl.2, jz.5, hlm. 102-103, k. Al-Maghazi, tanpa nomer dan judul bab, tanpa nomer hadits
[4] Muslim, Al-Jami’ush Shahih, jz.4, hlm.200-201, k. Ath-Thalaq, b. Inqidla’ ‘Iddatil Mutawaffa…
Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, jz.2, hlm.276, k. Ath-Thalaq, b. 45 ‘Iddatul Hamil hd.2306
An-Nasa’i, Sunanun Nasa’i, jz.6, hlm.196, k.27 Ath-Thalaq, b.56 ‘Iddatul Hamilil Mutawaffa...
Ibnu Majah, Sunan Ibni Majah, jl.1, hlm.653-654, k.10 Ath-Thalaq, b.7 Al-Hamilul Mutawaffa…hd.2027

0 Response to "WANITA MASA IDDAH, BOLEH DI NIKAHI ?"

Posting Komentar